Minggu, 14 Desember 2014

Model Penjadwalan Batch Multi Item dengan Dependent Processing Time

Permasalahan penjadwalan ditemukan ketika ada n buah job yang harus dikerjakan menggunakan satu mesin secara bergantian. Hal ini dikarenakan hanya sebuah job yang dapat dikerjakan setiap saat, untuk itu perlu ditentukan urutan pengerjaan job yang sesuai dengan kriteria performansi penjadwalan yang ditetapkan. Jika waktu proses setiap job sudah diketahui dan tidak tergantung pada urutan pengerjaan, terdapat beberapa aturan penjadwalan sudah tersedia untuk mesin tunggal

Permasalahan penjadwalan batch mempunyai karakteristik yang berbeda dengan penjadwalan job, yaitu pengerjaan setiap job dapat dilakukan dalam beberapa bagian, yang didefinisikan sebagai batch. Akibatnya jumlah job dan waktu pengerjaan job berubah mengikuti langkah pembagian job menjadi batch. Ini artinya persoalan penjadwalan menjadi lebih kompleks, yaitu mencari jumlah pembagian job menjadi batch, ukuran setiap batch, dan mencari urutan pengerjaan dari batch yang dihasilkan. Perbedaan karakteristik yang mendasar ini menyebabkan aturan penjadwalan job tidak dapat digunakan langsung untuk persoalan penjadwalan batch.

Waktu proses kadangkala tidak selalu konstan. Hal ini bisa ditemukan misalnya pada proses pengolahan baja proses pengerolan slab baja untuk memproduksi plat baja (coil) .Proses pengerolan diawali dengan proses pemanasan awal (preheating). Waktu pemanasan awal bergantung pada temperatur awal dari slab. Apabila proses pengerolan dilakukan segera setelah slab dihasilkan, proses pengerolan tidak memerlukan proses pemanasan awal karena temperatur slab sudah sesuai persyaratan. Namun jika setelah slab dihasilkan tidak langsung masuk ke proses pengerolan, maka temperatur slab secara alami turun. Semakin lama waktu menunggu slab untuk masuk ke proses pengerolan, temperaturnya semakin rendah. Ketika proses pengerolan dimulai, slab tersebut membutuhkan proses pemanasan awal sehingga waktu pengerolan menjadi lebih lama. Penjelasan ini menunjukkan bahwa waktu proses dipengaruhi oleh waktu tunggu.

Untuk mengerjakan satu job dapat dibagi dalam beberapa bagian, yang disebut dengan batch. Misalnya ada satu job item A sebanyak 50 unit yang dikerjakan dengan satu mesin. Waktu proses (t) adalah 2 menit/unit dan waktu setup (s) adalah 20 menit. Ada beberapa alternative pembagian job menjadi beberapa batch yang mungkin dilakukan, seperti yang ditunjukkan pada Gambar 1. Setiap alternatif memberikan dampak pada waktu tinggal, yaitu perkalian antara interval mulai dari saat kedatangan batch sampai saat penyerahan (due date) dengan ukuran batch (Q ). Pada ilustrasi diasumsikan bahwa saat kedatangan semua batch adalah saat nol dan saat penyerahan (due date) sama dengan saat selesai pengerjaan batch. Dari contoh ilustrasi tersebut terlihat bahwa jumlah batch (N ), ukuran batch (Q ), dan urutan pengerjaan batch adalah variabel keputusan dalam penjadwalan batch.
Pada penjadwalan batch, pengerjaan beberapa item yang harus diproses dibagi dalam sejumlah batch. Satu batch hanya berisi item yang sejenis. Jika ada  N  buah batch, maka kita dapat menyusun penjadwalan batch. Batch diberi indeks urutan dari arah due date (backward scheduling), dan saat penyelesaian batch yang diproses paling akhir adalah tepat pada saat penyerahan (due date) yang diinginkan oleh  konsumen.
Kondisi dependent processing time, yaitu waktu proses per unit tidak lagi tetap, dapat mempengaruhi waktu tinggal aktual batch. Waktu proses per unit dalam satu batch dipengaruhi oleh lama waktu tunggu mulai saat penyelesaian batch sampai dengan saat penyerahannya (due date). Sukoyo mengembangkan model dependent processing time dengan fenomena waktu proses per unit yang meningkat pada item tunggal. Pendekatan model dependent processing time ini diadopsi untuk situasi multi item.
Formulasi permasalahan penjadwalan batch multi item dengan waktu proses yang meningkat pada mesin tunggal ini menggunakan asumsi sebagai berikut: a). Saat penyerahan semua item pada waktu yang sama (common due date), b). Peningkatan waktu proses per unit pada satu batch adalah proporsional dengan lama waktu tunggu mulai dari saat batch selesai dikerjakan sampai dengan saat penyerahan (due date), c) Saat awal penjadwalan ditetapkan sama dengan nol, d) Semua item dapat dibagi sehingga ukuran batch adalah bilangan riil (kontinu) positif, e) Setiap batch hanya berisi item sejenis, f) Waktu proses batch tidak dapat diinterupsi, g) Saat kedatangan satu batch ke mesin dapat dikendalikan, sehingga saat kedatangannya adalah sama dengan saat mulai pengerjaan batch
Karakteristik waktu proses yang meningkat sesuai dengan waktu tunggu batch dari saat penyelesaian sampai saat penyerahan (due-date) mempengaruhi penentuan jumlah batch (N), alokasi item ke batch (X[i]g), dan ukuran setiap batch (Q[i]) pada penjadwalan batch multi item pada mesin tunggal. Permasalahan penjadwalan ini dapat diformulasikan dalam model programa nonlinear yang melibatkan variabel keputusan yang bersifat integer (N ) dan variabel biner (X[i]g). Persoalan penjadwalan batch multi item pada mesin tunggal yang disederhanakan menjadi programa nonlinear, dengan melakukan relaksasi pada variable keputusan N . Hal ini memungkinkan model programa binerinteger nonlinear yang dihasilkan dapat dipecahkan melalui pendekatan iterasi dengan prosedur heuristik. Hasil eksperimen menunjukkan bahwa prosedur heuristik yang dikembangkan mampu menemukan solusi terbaik dari persoalan penjadwalan batch multi item dengan waktu proses bersyarat pada mesin tunggal.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar