Minggu, 14 Desember 2014

PERANCANGAN TATA LETAK FLEKSIBEL DENGAN TEORI GRAPH

Tata letak yang umum digunakan untuk job shop adalah tata letak fungsional, flow-line, selular dan proyek (Tompkins et al, 1996). Tata letak tradisional ini hanya sesuai diterapkan ketika jenis family produk selalu stabil dan volume produksi relatif besar sehingga tidak fleksibel terhadap perubahan permintaan (Lahmar dan Benjafaar, 2002). Salah satu tata letak yang dapat mengatasi lingkungan yang volatile tersebut adalah tata letak modular. Perancangan tata letak Irani dan Huang (1998) menggunakan Levenshtein Distance (LD) untuk mengukur kedekatan antara satu Common substring (CS) dengan yang lain sehingga dapat dilakukan pengelompokan dengan Complete Linkage Clustering (CLC). Irani dan Huang (2000) membuat ukuran kedekatan antar CS dengan Merger Coefficient (MC) kemudian mengelompokan CS menggunakan Average Linkage Clustering (ALC) berdasarkan nilai MCnya. Irani etal (2000) menambahkan Strong Components Algorithm (SCA) untuk merancang tata letak modularnya. Kelemahan pada penelitian-penelitian terhadap tata letak modular yang disebutkan diatas adalah tidak memperhitungkan ongkos simpan, sehingga permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimana merancang tata letak yang fleksibel dengan mempertimbangkan ongkos simpan.
Tata letak pada fasilitas yang tidak mudah untuk dipindahkan tetapi memiliki fleksibilitas yang tinggi dapat dilakukan oleh tata letak terdistribusi dan tata letak modular, sedangkan tata letak reconfigurable hanya dapat diaplikasikan pada tata letak yang mudah dipindahkan atau biaya pemindahan yang relatif kecil. Berdasarkan pada batasan masalah maka yang dirancang adalah tata letak tidak reconfigurable. Beberapa asumsi mendasar yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
1.      Bentuk mesin dianggap bujur sangkar dengan ukuran sama untuk semua jenis mesin.
2.       Tiap produk diproses secara independen.
3.       Permintaan tidak tentu dan distribusi kemungkinannya diketahui
4.      Aliran material dapat masuk dan keluar dari departemen manapun.
5.      Semua permintaan harus dipenuhi pada periode yang dibutuhkan sehingga tidak ada back order.
6.       Produk setelah selesai diproses pada suatu departemen maupun pada saat akan diproses tidak mengalami delay untuk diangkut maupun untuk diproses ke departemen berikutnya, sehingga dianggap tidak ada buffer incoming maupun outgoing untuk tiap departemen.
7.       Ukuran batch untuk setiap produk dianggap tetap sepanjang periode.
8.      Rata-rata kecepatan tiap alat angkut adalah tetap.
9.       Ruting tiap produk sudah diketahui dan tetap.
10.  Ongkos simpan tiap satuan waktu untuk tiap produk pada saat penanganan material/produk adalah tetap.
11.   Mesin-mesin sudah tersedia pada awal periode.
12.  Efisiensi mesin dianggap 100% sehingga tidak ada produk cacat.
13.  Apabila produk selesai dibuat di suatu departemen maka produk tersebut dapat langsung diangkut untuk diproses pada departemen berikutnya tanpa adanya waktu menungggu
Metode usulan yang digunakan untuk menyusun tata letak modular adalah teori graph, dimana common substring (cs) dijadikan sebagai simpul, sedangkan operasi-operasi yang digunakan secara bersama oleh sepasang simpul dijadikan sebagai busurnya. Algoritma yang diusulkan menggunakan jumlah operasi pada tiap busur sebagai ukuran kekuatan hubungan antara sepasang simpul. Semakin banyak jumlah operasi dari suatu pasang simpul maka semakin kuat pula hubungan pasangan tersebut.
 Pembentukan sirkuit akan dimulai dari sepasang simpul yang memiliki hubungan terkuat dan
 selanjutnya berkembang dari kedua simpul akhir yang terbentuk tersebut. Busur yang baru akan
 dibuat secara terus menerus sehingga terbentuk sirkuit Hamiltonian.
Ukuran fleksibilitas tata letak pembanding menggunakan index robustness (Kreng dan Tsai,2002) dan ekspektasi TMHC (Benjafaar dan Syeikhzadeh, 2002). Teori fuzzy yang digunakan untuk memperoleh nilai RI dengan cara mengintegrasi bentuk variabel linguistik dari
 beberapa ahli. Berdasarkan variabel tersebut, ongkos yang minimum dan ukuran robustness direpresentasikan oleh nilai ekspektasi dan variansi dari deviasi OMH. Kedua faktor tersebut dinyatakan sebagai variabel linguistik yang dapat berupa pernyataan: amat penting, penting, normal, tidak penting atau sangat tidak penting.
Setiap individu yang memiliki nilai fitness yang lebih besar dibandingkan rata-rata nilai fitness keseluruhan populasi akan dipilih sebagai parents untuk menghasilkan generasi yang baru. Aturan crossover adalah sama dangan yang digunakan oleh Kochhar et al. (1998) dengan tambahan metode inversi diusulkan dari Islier (1998) sebagai aturan mutasi, dimana aturan  tersebut diadopsi dengan alas an individual gene dikodekan dalam bentuk string. Pada penerapan GA, elitist strategy digunakan untuk menjaga superior individuals, dan memproduksi individu baru yang dapat menghindari optimal local solusi pada generasi berikutnya.
Secara lengkap perancangan tata letak fleksibel adalah sebagai berikut:
1.      Mendesain parameter GA.
2.      Menggunakan teori fuzzi untuk menghitung weights of Robustness Index dengan mengintegrasikan pernyataan linguistic beberapa ahli.
3.      Mengidentifikasi karakteristik permintaan dan volumenya.
4.      Gunakan GA untuk mencari semua kemungkinan feasible layout berdasarkan various productvolumes.
5.      Hitung OMH yang dimodifikasi pada persamaan (2) dan (9), dan hitung pula expected value dan variance of deviation cost untuk tiap feasible layout.
6.      Hitung Robustness Index dari setiap feasible layout dan cari the most flexible layout.
7.      Gunakan layout terpilih tersebut untuk mengantisipasi setiap scenario dari range of variation of product volumes dalam planning period yang telah ditentukan.
8.      Analisis pengaruh dari product characteristics dan volumes pada facility layout untuk memberikan informasi bagi managers guna melakukan adjustment pada product dan process untuk menjaga optimalilitas tanpa harus membayar extra lost costs ketika product mix berubah dengan cepat.
Teori graph dapat digunakan untuk merancang tata letak yang fleksibel dengan melalui  pembentukan modul-modul tata letak. Tata letak yang fleksibel digunakan pada lingkungan yang selalu mengalami perubahan permintaan dengan cepat.
Tata letak modular yang dihasilkan dari contoh kasus diatas lebih baik dari tata letak terdistribusi yang fleksibel karena memiliki OMH lebih kecil untuk setiap perubahan permintaan di masa depan dan mampu mempertahankan optimalitasnya terhadap perubahan komposisi produk, tetapi belum dapat dikatakan bahwa tata letak modular lebih fleksibel dibandingkan dengan tata letak terdistribusi yang fleksibel. Hal ini lebih tergantung dari metode yang digunakan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar