Tata
letak yang umum digunakan untuk job
shop adalah tata letak fungsional, flow-line, selular dan proyek
(Tompkins et al, 1996). Tata letak tradisional ini hanya sesuai diterapkan
ketika jenis
family produk selalu stabil dan volume produksi relatif besar sehingga tidak
fleksibel terhadap
perubahan permintaan (Lahmar dan Benjafaar, 2002). Salah satu tata letak yang
dapat mengatasi
lingkungan yang volatile
tersebut adalah tata letak modular. Perancangan tata letak Irani
dan Huang (1998) menggunakan Levenshtein
Distance (LD) untuk mengukur kedekatan antara satu Common substring (CS)
dengan yang lain sehingga dapat dilakukan pengelompokan dengan Complete Linkage Clustering (CLC).
Irani dan Huang (2000) membuat ukuran kedekatan antar CS dengan Merger Coefficient (MC)
kemudian mengelompokan CS menggunakan Average
Linkage Clustering (ALC) berdasarkan nilai MCnya. Irani etal
(2000) menambahkan Strong
Components Algorithm (SCA) untuk merancang tata letak
modularnya. Kelemahan pada penelitian-penelitian terhadap tata letak modular
yang disebutkan diatas adalah tidak memperhitungkan ongkos simpan, sehingga
permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimana merancang tata letak yang
fleksibel dengan mempertimbangkan ongkos simpan.
Tata
letak pada fasilitas yang tidak mudah untuk dipindahkan tetapi memiliki
fleksibilitas yang tinggi dapat dilakukan oleh tata letak terdistribusi dan
tata letak modular, sedangkan tata letak reconfigurable hanya dapat
diaplikasikan pada tata letak yang mudah dipindahkan atau biaya pemindahan yang
relatif kecil. Berdasarkan pada batasan masalah maka yang dirancang adalah tata
letak tidak reconfigurable.
Beberapa asumsi mendasar yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
1. Bentuk
mesin dianggap bujur sangkar dengan ukuran sama untuk semua jenis mesin.
2. Tiap produk diproses secara independen.
3. Permintaan tidak tentu dan distribusi
kemungkinannya diketahui
4. Aliran
material dapat masuk dan keluar dari departemen manapun.
5. Semua
permintaan harus dipenuhi pada periode yang dibutuhkan sehingga tidak ada back order.
6. Produk setelah selesai diproses pada suatu
departemen maupun pada saat akan diproses tidak mengalami delay untuk
diangkut maupun untuk diproses ke departemen berikutnya, sehingga dianggap
tidak ada buffer
incoming maupun outgoing untuk tiap departemen.
7. Ukuran batch untuk setiap produk dianggap tetap
sepanjang periode.
8. Rata-rata
kecepatan tiap alat angkut adalah tetap.
9. Ruting tiap produk sudah diketahui dan tetap.
10. Ongkos
simpan tiap satuan waktu untuk tiap produk pada saat penanganan material/produk
adalah tetap.
11. Mesin-mesin sudah tersedia pada awal periode.
12. Efisiensi
mesin dianggap 100% sehingga tidak ada produk cacat.
13. Apabila
produk selesai dibuat di suatu departemen maka produk tersebut dapat langsung diangkut
untuk diproses pada departemen berikutnya tanpa adanya waktu menungggu
Metode
usulan yang digunakan untuk menyusun tata letak modular adalah teori graph,
dimana common
substring (cs) dijadikan sebagai simpul, sedangkan
operasi-operasi yang digunakan secara bersama oleh sepasang simpul dijadikan
sebagai busurnya. Algoritma yang diusulkan menggunakan jumlah operasi pada tiap
busur sebagai ukuran kekuatan hubungan antara sepasang simpul. Semakin banyak
jumlah operasi dari suatu pasang simpul maka semakin kuat pula hubungan
pasangan tersebut.
Pembentukan sirkuit akan dimulai dari sepasang
simpul yang memiliki hubungan terkuat dan
selanjutnya berkembang dari kedua simpul akhir
yang terbentuk tersebut. Busur yang baru akan
dibuat secara terus menerus sehingga terbentuk
sirkuit Hamiltonian.
Ukuran
fleksibilitas tata letak pembanding menggunakan index robustness (Kreng dan
Tsai,2002) dan ekspektasi TMHC (Benjafaar dan Syeikhzadeh, 2002). Teori fuzzy
yang digunakan untuk memperoleh nilai RI dengan cara mengintegrasi bentuk
variabel linguistik dari
beberapa ahli. Berdasarkan variabel tersebut,
ongkos yang minimum dan ukuran robustness direpresentasikan oleh nilai ekspektasi
dan variansi dari deviasi OMH. Kedua faktor tersebut dinyatakan sebagai
variabel linguistik yang dapat berupa pernyataan: amat penting, penting, normal,
tidak penting atau sangat tidak penting.
Setiap
individu yang memiliki nilai fitness yang lebih besar dibandingkan rata-rata
nilai fitness keseluruhan populasi akan dipilih sebagai parents untuk
menghasilkan generasi yang baru. Aturan crossover adalah sama dangan yang digunakan oleh
Kochhar et al. (1998) dengan tambahan metode inversi diusulkan dari Islier
(1998) sebagai aturan mutasi, dimana aturan
tersebut diadopsi dengan alas an individual gene dikodekan dalam
bentuk string. Pada penerapan GA, elitist
strategy digunakan untuk menjaga superior individuals,
dan memproduksi individu baru yang dapat menghindari optimal local solusi
pada generasi berikutnya.
Secara lengkap
perancangan tata letak fleksibel adalah sebagai berikut:
1. Mendesain
parameter GA.
2. Menggunakan
teori fuzzi untuk menghitung weights
of Robustness Index dengan mengintegrasikan pernyataan
linguistic beberapa ahli.
3. Mengidentifikasi
karakteristik permintaan dan volumenya.
4.
Gunakan GA untuk mencari semua kemungkinan feasible layout berdasarkan
various productvolumes.
5.
Hitung OMH yang dimodifikasi pada persamaan
(2) dan (9), dan hitung pula expected
value dan variance
of deviation cost untuk tiap feasible layout.
6. Hitung
Robustness Index dari
setiap feasible
layout dan cari the
most flexible layout.
7.
Gunakan layout terpilih tersebut untuk mengantisipasi
setiap scenario dari range
of variation of product volumes dalam planning period yang telah
ditentukan.
8.
Analisis pengaruh dari product characteristics dan
volumes pada
facility layout untuk
memberikan informasi bagi managers guna melakukan adjustment pada
product dan process untuk menjaga optimalilitas tanpa harus membayar extra lost costs ketika
product mix berubah
dengan cepat.
Teori graph dapat digunakan untuk merancang
tata letak yang fleksibel dengan melalui pembentukan modul-modul tata letak. Tata letak
yang fleksibel digunakan pada lingkungan yang selalu mengalami perubahan
permintaan dengan cepat.
Tata letak modular yang dihasilkan dari
contoh kasus diatas lebih baik dari tata letak terdistribusi yang fleksibel
karena memiliki OMH lebih kecil untuk setiap perubahan permintaan di masa depan
dan mampu mempertahankan optimalitasnya terhadap perubahan komposisi produk,
tetapi belum dapat dikatakan bahwa tata letak modular lebih fleksibel
dibandingkan dengan tata letak terdistribusi yang fleksibel. Hal ini lebih
tergantung dari metode yang digunakan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar