Minggu, 14 Desember 2014

KUALITAS LAYANAN BEBERAPA PERUSAHAAN ASURANSI DI SURABAYA

Saat ini di Surabaya, banyak  bermunculan perusahaan asuransi, baik lokal maupun jointventure. Jasa yang ditawarkan pun bervariasi jenisnya, misalnya: asuransi jiwa, asuransi kesehatan, dan reksa dana (dengan tingkat resiko yang bervariasi mulai dari kecil sampai besar). Dengan adanya banyak perusahaan yang bergerak di bidang yang sejenis, supaya tetap survive, masing-masing perusahaan harus berusaha memenuhi kebutuhan pelanggannya. Ditinjau dari sisi pelanggan, para pelanggan biasanya tidak mengetahui dengan detil setiap variabel pelayanan yang ada pada perusahaan penyedia jasa layanan. Akibatnya pelanggan dapat terkecoh dalam memilih suatu perusahaan asuransi. Oleh karena itu, diperlukan adanya pengukuran gap untuk mengetahui adanya perbedaan antara kenyataan yang diterima pelanggan dengan harapan pelanggan.
Adapun permasalahan yang akan dibahas pada penelitian ini adalah seberapa besar gap antara kenyataan yang diterima pelanggan (persepsi) dengan harapan pelanggan pada berbagai perusahaan asuransi yang dikenal oleh pelanggan, yang berlokasi di Surabaya.

·         KUALITAS LAYANAN
Kualitas adalah sesuatu yang dipikirkan oleh pelanggan. Kualitas berhubungan dengan keinginan pelanggan itu sendiri. Kualitas layanan sulit diukur karena banyaknya variasi persepsi dan harapan pelanggan. Persepsi tentang kualitas bersifat subyektif. Kualitas dibentuk dari image pelanggan. Image atau persepsi pelanggan ini terbentuk saat pelanggan menerima pelayanan di perusahaan yang bersangkutan. Image pelayanan berhubungan dengan pengalaman pelanggan dalam menerima pelayanan dari perusahaan sebagai pihak penyedia jasa. Agar dapat menyajikan pelayanan yang memuaskan, diperlukan usaha menyamakan persepsi dan harapan pelanggan. Untuk mewujudkannya diperlukan suatu metode analisa gap. Perbedaan antara persepsi dan harapan pelanggan akan menyebabkan timbulnya gap. Gap menunjukkan bahwa kualitas layanan belum memenuhi harapan pelanggan. Semakin kecil gap
 yang terjadi, maka semakin memuaskan pula kualitas layanan terhadap pelanggan. Begitu juga
dengan sebaliknya, semakin besar gap maka semakin tidak memuaskan pula kualitas layanan terhadap pelanggan.
·         ANALISIS GAP DAN TINGKAT KEPENTINGAN
Data yang dihimpun pertama kali dalam penelitian penelitian ini adalah data mengenai service cycle dari perusahaan asuransi dan jenis-jenis layanan perusahaan asuransi yang diperoleh melalui brainstorming dengan beberapa nasabah dan perusahaan asuransi. Service cycle dari perusahaan asuransi dapat dilihat pada Gambar 1. Selanjutnya informasi tentang jenis-jenis pelayanan asuransi yang telah ada diringkas untuk digunakan sebagai parameter mengukur kinerja dari perusahaan asuransi. Parameter pelayanan dikelompokkan menjadi lima dimensi yaitu Assurance, Empathy, Responsibility, Reliability, dan Tangible.
Responden adalah nasabah perusahaan asuransi. Dasar dari penyebaran kuesioner adalah  purposive sampling. Komposisi penyebaran responden per perusahaan ditampilkan pada Tabel 1 di bawah ini.

Tingkat kepentingan dari tiap dimensi layanan ditampilkan dengan Tabel 2 di bawah ini.
Dari Tabel 2 terlihat responden menganggap dimensi assurance dan empathy penting
karena bobot untuk kedua dimensi tersebut lebih besar daripada rata-rata tingkat kepentingan
yaitu 0,2. Sedangkan dimensi yang tidak terlalu dipentingkan oleh responden adalah dimensi
reliability dan tangibl.
Responden diminta untuk mengisikan harapannya dan persepsinya terhadap tiap-tiap pertanyaan. Nilai mharapan, persepsi dan selisihnya dari tiap-tiap dimensi dapat dilihat pada Tabel 3 di bawah ini.
Berdasarkan Tabel 3, rata-rata responden mempunyai harapan yang sangat tinggi terhadap kualitas layanan yang ditunjukkan dengan tingginya nilai harapan (mendekati skala 7). Walaupun ada gap sebesar -0,865 sampai -1,292 persepsi pelanggan ternyata cukup tinggi (lebih dari skala tengah yaitu 4), dengan kisaran antara 5,593 sampai 5,902. Hasil Uji Wilcoxon dapat dilihat sebagai berikut.
Untuk pengujian perbedaan persepsi tiap dimensi didapatkan nilai signifikan sebesar 0,00 dan disimpulkan bahwa tidak semua dimensi mempunyai nilai persepsi yang sama. Selanjutnya dilakukan uji Wilcoxon untuk mengetahui persamaan dan perbedaan nilai persepsi antar dimensi. Dimensi dengan nilai persepsi tertinggi adalah dimensi assurance dan tangible, sedangkan dimensi dengan nilai persepsi terendah adalah dimensi responsiveness dan empathy. Dari nilai gap di atas didapatkan bahwa tidak ada dimensi yang telah memenuhi harapan responden. Kesemua dimensi mempunyai nilai persepsi yang lebih rendah daripada harapan.
Berdasarkan Tabel 5 yang menunjukkan hasil perhitungan gap terbobot tiap dimensi untuk keseluruhan perusahaan dan uji Wilcoxon untuk mengetahui persamaan dan perbedaan nilai Adjusted Weight antar dimensi, diperoleh hasil bahwa kesemua dimensi berbeda antara satu dengan yang lainnya. Dimensi tangible mempunyai gap terkecil, sementara dimensi empathy mempunyai gap terbesar dibandingkan dengan dimensi lainnya.
Berikut ini adalah nilai gap mean untuk tiap dimensi dan ranking dimensi tersebut
berdasarkan nilai gap dan uji statistik. Oleh karena dari uji Statistik dengan uji Wilcoxon
didapatkan bahwa kesemua dimensi berbeda, maka class rank juga sama dengan rank. Di bawah
ini adalah tabel ranking dimensi.
Dimensi yang paling dekat dengan harapan responden adalah dimensi tangible. Kemudian
disusul oleh dimensi assurance, reliability, responsiveness, dan terakhir adalah empathy. Uji
perbedaan nilai gap 5 antar perusahaan dilakukan dengan uji Kruskal-Wallis. Dari hasil
pengujian didapatkan nilai signifikan tiap dimensi yang ditampilkan pada Tabel 7 sebagai
berikut.
Untuk dimensi assurance, empathy, responsiveness, dan reliability tidak ada perbedaan
antar perusahaan. Sedangkan untuk gap dimensi tangible minimal terdapat satu perbedaan di
antara kesepuluh perusahaan. Untuk selanjutnya dilakukan uji Mann-Whitney untuk dimensi
yang mempunyai minimal satu perbedaan.
Berdasarkan nilai gap mean untuk dimensi tangible pada masing-masing perusahaan,
didapatkan bahwa perusahaan yang memiliki layanan terbaik pada dimensi tangible adalah
Prudential. Berdasarkan hasil uji statistik, didapatkan bahwa Prudential menempati urutan teratas
dalam pembagian kelas perusahaan menurut dimensi tangible.

·         Dimensi layanan yang dianggap paling penting bagi para pelanggan adalah empathy dan assurance, sementara yang dianggap paling tidak penting adalah dimensi tangible.
·          Harapan pelanggan dengan nilai terbesar ada pada dimensi assurance, yaitu sebesar 6,886 (dari skala 7). Hal ini menunjukkan bahwa pelanggan sangat mengutamakan faktor jaminan dan kredibilitas perusahaan yang bersangkutan. Sementara dimensi dengan nilai harapan terkecil terdapat pada dimensi tangible yaitu dengan nilai sebesar 6,793 (dari skala 7). Hal ini menunjukkan bahwa hal-hal yang bersifat fisik bukanlah faktor penentu utama seorang pelanggan terhadap suatu perusahaan asuransi. Akan tetapi tidak ada perbedaan yang signifikan antara nilai harapan pada setiap dimensi, dilihat dari nilai harapan yang berkisar antara 6,7 sampai 6,8 (dari skala 7) untuk kelima dimensi layanan yang ada. Secara umum responden mempunyai harapan yang sangat tinggi untuk pelayanan di semua dimensi layanan yang ada.
·         Dimensi yang paling mendekati kepuasan pelanggan adalah dimensi tangible, ditunjukkan dengan nilai gap yang terkecil, yaitu sebesar -0,815. Sementara itu, dimensi dengan nilai gap terbesar, adalah dimensi empathy, yaitu sebesar -1,345. Hal ini menunjukkan bahwa dimensi empathy paling menjauhi tingkat kepuasan pelanggan.
·         Belum ada perusahaan yang bisa memenuhi harapan pelanggan, diukur dari semua dimensi pelayanan yang ada. Akan tetapi secara umum (deskriptif) jika dilihat dari gap mean untuk kelima dimensi layanan, Prudential lebih baik dari kesembilan perusahaan lainnya. Secara statistik, untuk assurance, empathy, reliability, responsiveness, tidak ada beda yang signifikan
antar perusahaan. Untuk dimensi tangible, Pudential menempati posisi tertinggi.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar