Minggu, 14 Desember 2014

PENENTUAN RUTE TRUK PENGUMPULAN DAN PENGANGKUTAN SAMPAH DI BANDUNG

Proses pengumpulan sampah merupakan kontributor terbesar dalam biaya pengelolaan sampah. Rute pengumpulan sampah adalah faktor penentu biaya pengelolaan sampah. Rute pengumpulan sampah dapat dibuat dengan memperhatikan keterbatasan yang ada seperti: jumlah kendaraan, waktu angkut dan sistem pengangkutan yang dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan rute pengumpulan dan pengangkutan sampah. Kondisi pengumpulan sampah dapat dianalogikan dengan model Vehicle Routing Problem dengan menambahkan intermediate facility pada akhir rute, yakni tempat pembuangan sampah akhir. Model ini disebut Vehicle Routing Problem with Multiple Trips and Intermediate Facility (VRPMTIF). Penentuan rute pengumpulan sampah VRPMTIF diselesaikan dengan menggunakan algoritma sequential insertion. Algoritma tersebut diterapkan pada penentuan rute pengumpulan sampah di Kota Bandung dengan hasil sebagai berikut: 28 tur untuk Bandung Barat, 41 tur untuk Bandung Tengah, dan 68 tur untuk Bandung Timur dengan waktu penyelesaian yang berbeda untuk setiap skenario.
Proses pengambilan sampah di Bandung saat ini dilakukan dengan menggunakan cara pengambilan bak rute dan container. Cara pertama dikenal dengan nama pengumpulan sampah bak, dimana truk mendatangi beberapa tempat pembuangan sampah (TPS) untuk dilakukan pemuatan sampah kedalam truk. Setelah penuh truk menuju tempat pembuangan akhir (TPA) untuk melakukan proses unloading. Selanjutnya jika waktu masih mencukupi truk kembali lagi ke TPS untuk melakukan proses loading. Cara kedua atau pengumpulan sampah dengan sistem kontainer besar dikenal dengan direct shipping. Truk dengan kontainer kosong menuju lokasi untuk menurunkan kontainer yang kosong dan mengambil kontainer yang sudah penuh untuk dibawa ke TPA. Jika waktu masih cukup truk kembali ke TPS lainnya untuk melakukan hal yang sama sampai waktunya selesai.
Permasalahan yang terjadi pada proses pengumpulan sampah adalah adanya TPA yakni intermediate facility yang harus dilewati oleh setiap rute sebelum kembali ke depo. Intermediate facility mempengaruhi proses pengumpulan sampah sehingga perlu model khusus. Sistem pengangkutan sampah ini dapat dimodelkan sebagai suatu varian dari masalah penentuan rute kendaraan (vehicle routing problem) dengan adanya rute majemuk (multiple route) dan fasilitas antara (intermediate facility).
Metoda pengumpulan sampah di kota Bandung dilakukan dengan dua cara yaitu bak (rute) dan container (direct shipping). Hubungan antara sistem pengangkutan sampah dan model penentuan rute yang dibahas dalam studi ini diperlihatkan dalam Tabel 1.

Depo merupakan lokasi titik keberangkatan dan kembalinya kendaraan setelah mengakhir seluruh pelayanan sepanjang horison perencanaan. Dalam sistem yang dibahas, jumlah depo dianggap tunggal. Sistem yang dibahas terdiri atas sejumlah TPS (customer) dengan tiap TPS merupakan lokasi pemuatan. Waktu pemuatan pada masing-masing TPS tergantung pada jumlah muatan. Waktu pemuatan per unit dinyatakan dengan s. Jumlah muatan pada tiap TPS i, dinotasikan dengan qi, dan diasumsikan tidak melebihi kapasitas kendaraan, Q. Fasilitas antara merupakan titik lokasi pembongkaran muatan. Lama waktu pembongkaran muatan, dinotasikan dengan h, tergantung pada jumlah muatan yang dibongkar. Dalam kasus ini, jumlah fasilitas antara dianggap tunggal. Jumlah kendaraan diasumsikan tak terbatas dan kapasitas kendaraan Q
dianggap homogen dan kecepatan kendaraan v dianggap sama dan tetap.
Rute didefinisikan sebagai suatu urutan kunjungan kendaraan ke sejumlah TPS untuk memuat muatan yang dimulai dari depo dan berakhir di suatu fasilitas antara. Sedangkan tur didefinisikan sebagai urutan kunjungan dari suatu kendaraan yang berangkat dari depo ke sejumlah TPS dan kembali lagi ke depo. Suatu tur dapat terdiri dari satu atau lebih rute yang saling berurutan. Waktu penyelesaian tur tidak boleh melebihi panjang horison perencanaan yang telah ditetapkan. Horison perencanaan, dinotasikan dengan PH, mendefinisikan lama jam operasi kendaraan yang terdiri atas batas bawah dan batas atas.
Telah dikembangkan model untuk membuat rute pengangkutan sampah dengan batasan jarak tempuh ke TPA, jumlah TPS, kapasitas angkut kendaraan dan horison perencanaan dengan menggunakan data proses kegiatan pengumpulan sampah di Kota Bandung.
 Terdapat kesamaan hasil jumlah kendaraan untuk setiap alternatif kecuali alternatif 3. Yang menjadi pembeda adalah completion time yang disebabkan karena urutan dari setiap rute pada setiap tur.
Saran untuk penelitian selanjutnya adalah menambah varian VRP yang lain, misalkan VRP with multiple depos, dan VRP with time window. Penelitian dapat dikembangkan dengan menggunakan metode pemecahan masalah yang berbeda, misalkan dengan menggunakan simulated annealing atau tabu search.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar