Proses pengumpulan sampah
merupakan kontributor terbesar dalam biaya pengelolaan sampah. Rute pengumpulan
sampah adalah faktor penentu biaya pengelolaan sampah. Rute pengumpulan sampah
dapat dibuat dengan memperhatikan keterbatasan yang ada seperti: jumlah
kendaraan, waktu angkut dan sistem pengangkutan yang dilakukan. Penelitian ini
bertujuan untuk menentukan rute pengumpulan dan pengangkutan sampah. Kondisi
pengumpulan sampah dapat dianalogikan dengan model Vehicle Routing Problem
dengan menambahkan intermediate facility pada akhir rute, yakni
tempat pembuangan sampah akhir. Model ini disebut Vehicle Routing Problem
with Multiple Trips and Intermediate Facility (VRPMTIF). Penentuan rute
pengumpulan sampah VRPMTIF diselesaikan dengan menggunakan algoritma sequential
insertion. Algoritma tersebut diterapkan pada penentuan rute pengumpulan
sampah di Kota Bandung dengan hasil sebagai berikut: 28 tur untuk Bandung
Barat, 41 tur untuk Bandung Tengah, dan 68 tur untuk Bandung Timur dengan waktu
penyelesaian yang berbeda untuk setiap skenario.
Proses
pengambilan sampah di Bandung saat ini dilakukan dengan menggunakan cara pengambilan bak rute dan container.
Cara pertama dikenal dengan nama pengumpulan sampah bak, dimana truk mendatangi
beberapa tempat pembuangan sampah (TPS) untuk dilakukan pemuatan sampah kedalam truk.
Setelah penuh truk menuju tempat pembuangan akhir (TPA) untuk melakukan proses unloading.
Selanjutnya jika waktu masih mencukupi truk kembali lagi ke TPS untuk melakukan
proses loading. Cara kedua atau pengumpulan sampah dengan sistem kontainer
besar dikenal dengan direct shipping. Truk dengan kontainer kosong
menuju lokasi untuk menurunkan kontainer yang kosong dan mengambil kontainer
yang sudah penuh untuk dibawa ke TPA. Jika waktu masih cukup truk kembali ke
TPS lainnya untuk melakukan hal yang sama sampai waktunya selesai.
Permasalahan
yang terjadi pada proses pengumpulan sampah adalah adanya TPA yakni intermediate
facility yang harus dilewati oleh setiap rute sebelum kembali ke depo. Intermediate
facility mempengaruhi proses pengumpulan sampah sehingga perlu model
khusus. Sistem pengangkutan sampah ini dapat dimodelkan sebagai suatu varian
dari masalah penentuan rute kendaraan (vehicle routing problem) dengan
adanya rute majemuk (multiple route) dan fasilitas antara (intermediate
facility).
Metoda
pengumpulan sampah di kota Bandung dilakukan dengan dua cara yaitu bak (rute) dan
container (direct shipping). Hubungan antara sistem pengangkutan
sampah dan model penentuan rute yang dibahas dalam studi ini diperlihatkan
dalam Tabel 1.

Depo merupakan
lokasi titik keberangkatan dan kembalinya kendaraan setelah mengakhir seluruh
pelayanan sepanjang horison perencanaan. Dalam sistem yang dibahas, jumlah depo
dianggap tunggal. Sistem yang dibahas terdiri atas sejumlah TPS (customer)
dengan tiap TPS merupakan lokasi pemuatan. Waktu pemuatan pada masing-masing
TPS tergantung pada jumlah muatan. Waktu pemuatan per unit dinyatakan dengan s.
Jumlah muatan pada tiap TPS i, dinotasikan dengan qi, dan
diasumsikan tidak melebihi kapasitas kendaraan, Q. Fasilitas antara merupakan
titik lokasi pembongkaran muatan. Lama waktu pembongkaran muatan, dinotasikan dengan
h, tergantung pada jumlah muatan yang dibongkar. Dalam kasus ini, jumlah
fasilitas antara dianggap tunggal. Jumlah kendaraan diasumsikan tak terbatas
dan kapasitas kendaraan Q
dianggap homogen dan kecepatan
kendaraan v dianggap sama dan tetap.
Rute
didefinisikan sebagai suatu urutan kunjungan kendaraan ke sejumlah TPS untuk memuat
muatan yang dimulai dari depo dan berakhir di suatu fasilitas antara. Sedangkan
tur didefinisikan sebagai urutan kunjungan dari suatu kendaraan yang berangkat
dari depo ke sejumlah TPS dan kembali lagi ke depo. Suatu tur dapat terdiri
dari satu atau lebih rute yang saling berurutan. Waktu penyelesaian tur tidak
boleh melebihi panjang horison perencanaan yang telah ditetapkan. Horison
perencanaan, dinotasikan dengan PH, mendefinisikan lama jam operasi kendaraan
yang terdiri atas batas bawah dan batas atas.
Telah
dikembangkan model untuk membuat rute pengangkutan sampah dengan batasan jarak
tempuh ke TPA, jumlah TPS, kapasitas angkut kendaraan dan horison perencanaan
dengan menggunakan data proses kegiatan pengumpulan sampah di Kota Bandung.
Terdapat kesamaan hasil jumlah kendaraan untuk
setiap alternatif kecuali alternatif 3. Yang menjadi pembeda adalah completion
time yang disebabkan karena urutan dari setiap rute pada setiap tur.
Saran untuk
penelitian selanjutnya adalah menambah varian VRP yang lain, misalkan VRP with
multiple depos, dan VRP with time window. Penelitian dapat
dikembangkan dengan menggunakan metode pemecahan masalah yang berbeda, misalkan
dengan menggunakan simulated annealing atau tabu search.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar