Minggu, 14 Desember 2014

PENGADOPSIAN TEKNOLOGI RFID DI RUMAH SAKIT INDONESIA, MANFAAT DAN HAMBATANNYA

eksplorasi manfaat dan hambatan dari pengadopsian teknologi RFID (Radio Frequency Identification) dalam konteks rumah sakit di Indonesia. Metode investigasi dari penelitian ini menggunakan wawancara dan kuesioner semi-struktur untuk konsultan, peneliti teknologi RFID dan manajer rumah sakit berkatagori besar di Pulau Jawa. Manfaat-manfaat dan hambatan-hambatan dari pengadopsian teknologi RFID telah diidentifikasi dari studi literatur. Hambatan dari pengadopsian teknologi RFID dibagi menjadi dua aspek yaitu hambatan dari aspek bisnis dan teknologi. Temuan dari studi ini meyakini bahwa manfaat dari pengadopsian teknologi RFID didominasi oleh manfaat yang bersifat intangible. Sebagian besar responden meyakini bahwa hambatan utama dari pengadopsian teknologi RFID adalah:  kompleksnya teknologi RFID,  ketiadaan informasi yang lengkap dan valid, tidak tersedianya anggaran yang cukup.
Aplikasi teknologi RFID (Radio Frequency Identification) di rumah sakit relatif baru dibandingkan dengan sektor lainnya seperti manufaktur, retail, perpustakaan, logistik dan supply
 chain. Banyak para akademisi dan praktisi meyakini bahwa teknologi RFID memiliki potensi besar untuk memberikan kemanfaatan bagi rumah sakit. Berdasarkan Wang et al. (2005) yang melakukan studi tentang bagaimana aplikasi teknologi RFID di sebuah rumah sakit di Taiwan menunjukkan adanya penurunan biaya operasi, peningkatan keselamatan pasien dan peningkatan kualitas layanan medis. Tzeng et al. (2008) juga berhasil menunjukkan bahwa terjadi peningkatan proses bisnis dari lima rumah sakit di Taiwan dengan tingkat derajat kesuksesan yang bervariasi baik penuh maupun parsial. Laporan dari RFID journal dan media internet juga menunjukkan banyak rumah sakit di dunia yang mengimplementasikannya berhasil mendapatkan manfaat dari pengaplikasian teknologi ini seperti rumaha sakit di Belanda, Italia dan lainnya (Wessel, 2007; Swedberg, 2008).
Sebenarnya, teknologi RFID bukanlah teknologi informasi (TI) yang baru. Teknologi ini
ternyata telah ditemukan pada tahun 1950-an ketika Harris mematenkan penemuannya berupa
sistem radio transmisi dan sebagai awal dimulainya riset teknologi RFID pada skala laboratorium
(Hunt et al., 2007). Akan tetapi, komersialisasi oleh perusahaan untuk teknologi ini baru dimulai di
awal tahun 1984 ketika General Motors (GM) melekatkan RFID tags di dalam produk mobilnya
(Juban dan Wyld, 2004). Dorongan utama cepatnya pengadopsian dari teknologi RFID disebabkan karena adanya mandat dari Walt-Mart, US Defense Department, dan perusahaan Eropa seperti Metro and Tesco, yang mempersyaratkan pemasok mereka untuk menggunakan teknologi RFID. Dalam perkembangan yang pesat, teknologi RFID telah berhasil diaplikasikan dalam bidang manufaktur, logistik dan supply chain dan berpotensi berkembang pada area yang lebih luas diantaranya di rumah sakit.
Evans dan Piechowski (2005) melaporkan bahwa hampir setengah (43%) dari industri
kesehatan Amerika Serikat yang disurvei memerlukan teknologi RFID untuk meningkatkan
kompetitif strateginya. Ini mengindikasikan bahwa keperluan dari industri kesehatan itu sendiri
lebih berpengaruh dibanding dengan mandat dan rekomendasi dari pemerintah,organisasi dan
konsumen besar seperti perusahaan retailer. Daya dorong lainnya dari pengadopsian teknologi
RFID adalah faktor eksternal seperti rumah sakit di Singapura yang memerangi pandemi SARS
yang menyerang Singapura pada tahun 2003. Bahkan dalam perkembangannya ternyata teknologi
RFID juga berhasil digunakan untuk meningkatkan keselamatan pasien, meningkatkan kualitas
layanan dan mereduksi biaya operasi.
Wang et al. (2005) berhasil mengeksplorasi bagaimana potensi manfaat dari pengadopsian
teknologi RFID di sebuah rumah sakit di Taiwan. Hasilnya menunjukkan bahwa teknologi RFID
memiliki potensi berkontribusi pada pengoperasian yang lebih efektif, meningkatkan layanan
medis, dan keselamatan pasien (patient safety). Tzeng et al. (2008) berhasil menunjukkan adanya
perbaikan proses bisnis di lima buah rumah sakit di Taiwan setelah mengimplementasikan
teknologi RFID. Di sisi lain, adanya teknologi RFID memudahkan staf medis melakukan pengidentifikasian pasien dan penelurusan keberadaan peralatan medis yang diperlukan. Hal ini akan berdampak pada peningkatan produktivitas dari staf medis terutama perawat. Umumnya, rumah sakit akan semakin efisien operasinya bila mengaplikasikan teknologi RFID dan juga akan meningkatkan kepuasaan pasien. Pasien tidak lagi menunggu terlalu lama melakukan proses administrasi dan menunggu operasi karena peralatan medis belum siap/ditemukan. Adanya teknologi RFID akan menggantikan aktivitas manual menjadi otomatis sehingga biaya tenaga kerja dan waktu kerjanya dapat tereduksi.
Adanya mandat dari pemerintah berkaitan dengan perlunya obat-obatan tertentu dibubuhi dengan RFID tags menyebabkan jumlah pencurian dan pemalsuan obat dapat ditekan. Dampaknya juga dapat menekan biaya persediaan obat karena rumah sakit dengan mudah bisa mengetahui berapa obat yang tersedia. Adanya teknologi ini, moral dari staf medis akan meningkat karena kemungkinan terjadinya kesalahan obat dan sukarnya memantau pasien dan
 peralatan medis dapat dihindari. Pada Tabel 1 diperlihatkan hasil identifikasi manfaat teknologi RFID di industri kesehatan terutama rumah sakit dari beberapa literatur terutama pada artikel yang ditulis oleh Wang et al. (2005), Tzeng et al. (2008) dan FDA (2006).
Penelitian ini lebih difokuskan pada entitas rumah sakit karena bila melihat dari aliran pasoknya, memperlihatkan bahwa rumah sakit adalah entitas utama dari industri kesehatan dan berinteraksi langsung  dengan konsumen/pasien. Umumnya, aplikasi teknologi informasi baru dilakukan oleh rumah sakit besar karena memerlukan investasi biaya yang besar. Hampir 60% rumah sakit berkatagori besar milik pemerintah dengan bertipe A dan B berada di Pulau Jawa dan sebagian besar rumah sakit swasta berkatagori besar juga berada di Pulau Jawa (Depkes, 2008). Di sisi lain, fakta menunjukkan bahwa aplikasi teknologi RFID relatif baru di Indonesia. Oleh karena itu, penelitian ini lebih difokuskan pada rumah sakit berkatagori besar dan bertipe A dan B di Pulau Jawa dengan menggunakan metode interview dan penyebaran kuesioner semi-struktur agar mendapatkan opini yang lebih mendalam dari masalah yang hendak diteliti. Sebagian besar skala penelitian yang digunakan adalah skala ranking karena relatif sedikit para eksekutif dan manager rumah sakit mengetahui dan memahami teknologi ini di rumah sakit.
Adanya aplikasi teknologi RFID akan menyebabkan peningkatan proses bisnis berupa terjadinya proses otomatisasi yang berimplikasi tereduksinya proses yang bersifat manual. Dalam
 konteks rumah sakit, proses pemberian identitas pasien dan pemenuhan pelaporan SOP (standard operation procedures) tidak perlu dilakukan secara manual lagi. Pemberian identitas pasien dapat dilakukan secara otomatis tanpa perlu menginputkan data kembali karena data pasien sudah tersimpan pada sistem ketika pasien registrasi pertama kali. Pemenuhan pelaporan SOP sebagai kewajiban perawat jaga, tidak perlu dilakukan secara manual karena pelaksanaannya bisa dilakukan secara otomatis dengan bukti yang cukup kuat berupa waktu kapan aktivitas pemberian obat dan suntikan dilakukan oleh perawat. Perawat perlu menginputkan data aktivitasnya pada RFID tags yang telah dipakai oleh pasien. Pelaporan tindakan medis yang telah dilakukan perawat sesuai dengan perintah dari dokter, tidak perlu dilaporkan secara langsung karena dokter dengan bantuan telepon genggam berjenis PDA (personal digital assitant) yang memiliki fasilitas infrared dan bluetooth mampu membaca dokumen di RFID tags.
Dalam penelitian yang dilakukan , hambatan dari pengadopsian teknologi RFID dibagi menjadi dua yaitu hambatan bisnis dan teknologi. Dalam konteks hambatan pada bisnis, sebagian besar responden menganggap bahwa faktor utama dari terhambatnya pengadopsian teknologi RFID karena ketiadaan informasi yang lengkap dan valid yang membahas bagaimana aplikasi teknologi RFID di rumah sakit melalui jurnal akademis (terutama nasional), majalah, surat kabar dan media lainnya. Kalaupun mereka  
rumah sakit, mereka mendapatkan informasi yang tidak lengkap dan valid sehingga sering beranggapan bahwa tidak mudah mengaplikasikannya dan biaya dari teknologi ini sangatlah mahal. Di sisi internal rumah sakit, tidak tersedianya anggaran yang cukup untuk mengimplementasikan teknologi RFID dan tiadanya sumber daya internal yang mendukung menjadi faktor penghambat penting kedua dan ketiga.
Implementasi teknologi RFID di rumah sakit Indonesia berada pada tahap inisiasi, dimana para eksekutif dan manajer rumah sakit berupaya secara aktif maupun pasif mencari informasi dari solusi yang bisa diberikan untuk menyelesaikan masalah rumah sakit atau meningkatkan daya saingnya. Bila dibandingkan dengan negara lain seperti di Taiwan, menunjukkan terjadi perbedaan yang signifikan dari tahapan proses implementasi teknologi RFID. Berdasarkan hasil penelitian Tzeng et al. (2008) menunjukkan bahwa implementasi teknologi RFID di rumah sakit di Taiwan telah memasuki tahap pengembangan (infusion). Tzeng et al. (2008) melaporkan bahwa tidak hanya mampu mereduksi biaya dan meningkatkan pelayanan medis. Selain itu, teknologi RFID juga mampu meningkatkan proses bisnis di lima rumah sakit di Taiwan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar