eksplorasi
manfaat dan hambatan dari pengadopsian teknologi RFID (Radio Frequency
Identification) dalam konteks rumah sakit di Indonesia. Metode investigasi
dari penelitian ini menggunakan wawancara dan kuesioner semi-struktur untuk
konsultan, peneliti teknologi RFID dan manajer rumah sakit berkatagori besar di
Pulau Jawa. Manfaat-manfaat dan hambatan-hambatan dari pengadopsian teknologi
RFID telah diidentifikasi dari studi literatur. Hambatan dari pengadopsian
teknologi RFID dibagi menjadi dua aspek yaitu hambatan dari aspek bisnis dan
teknologi. Temuan dari studi ini meyakini bahwa manfaat dari pengadopsian
teknologi RFID didominasi oleh manfaat yang bersifat intangible. Sebagian besar
responden meyakini bahwa hambatan utama dari pengadopsian teknologi RFID adalah:
kompleksnya teknologi RFID, ketiadaan informasi yang lengkap dan valid, tidak
tersedianya anggaran yang cukup.
Aplikasi teknologi RFID (Radio
Frequency Identification) di rumah sakit relatif baru dibandingkan dengan
sektor lainnya seperti manufaktur, retail, perpustakaan, logistik dan supply
chain.
Banyak para akademisi dan praktisi meyakini bahwa teknologi RFID memiliki
potensi besar untuk memberikan kemanfaatan bagi rumah sakit. Berdasarkan Wang et
al. (2005) yang melakukan studi tentang bagaimana aplikasi teknologi RFID
di sebuah rumah sakit di Taiwan menunjukkan adanya penurunan biaya operasi,
peningkatan keselamatan pasien dan peningkatan kualitas layanan medis. Tzeng et
al. (2008) juga berhasil menunjukkan bahwa terjadi peningkatan proses
bisnis dari lima rumah sakit di Taiwan dengan tingkat derajat kesuksesan yang
bervariasi baik penuh maupun parsial. Laporan dari RFID journal dan
media internet juga menunjukkan banyak rumah sakit di dunia yang mengimplementasikannya
berhasil mendapatkan manfaat dari pengaplikasian teknologi ini seperti rumaha sakit
di Belanda, Italia dan lainnya (Wessel, 2007; Swedberg, 2008).
Sebenarnya, teknologi RFID
bukanlah teknologi informasi (TI) yang baru. Teknologi ini
ternyata telah ditemukan pada tahun 1950-an ketika
Harris mematenkan penemuannya berupa
sistem radio transmisi dan sebagai awal dimulainya
riset teknologi RFID pada skala laboratorium
(Hunt et al., 2007). Akan tetapi,
komersialisasi oleh perusahaan untuk teknologi ini baru dimulai di
awal tahun 1984 ketika General Motors (GM)
melekatkan RFID tags di dalam produk mobilnya
(Juban dan Wyld, 2004). Dorongan utama cepatnya
pengadopsian dari teknologi RFID disebabkan karena adanya mandat dari
Walt-Mart, US Defense Department, dan perusahaan Eropa seperti Metro and
Tesco, yang mempersyaratkan pemasok mereka untuk menggunakan teknologi RFID.
Dalam perkembangan yang pesat, teknologi RFID telah berhasil diaplikasikan dalam
bidang manufaktur, logistik dan supply chain dan berpotensi berkembang
pada area yang lebih luas diantaranya di rumah sakit.
Evans dan Piechowski (2005)
melaporkan bahwa hampir setengah (43%) dari industri
kesehatan Amerika Serikat yang disurvei memerlukan
teknologi RFID untuk meningkatkan
kompetitif strateginya. Ini mengindikasikan bahwa
keperluan dari industri kesehatan itu sendiri
lebih berpengaruh dibanding dengan mandat dan
rekomendasi dari pemerintah,organisasi dan
konsumen besar seperti perusahaan retailer.
Daya dorong lainnya dari pengadopsian teknologi
RFID adalah faktor eksternal seperti rumah sakit di
Singapura yang memerangi pandemi SARS
yang menyerang Singapura pada tahun 2003. Bahkan
dalam perkembangannya ternyata teknologi
RFID juga berhasil digunakan untuk meningkatkan
keselamatan pasien, meningkatkan kualitas
layanan dan mereduksi biaya operasi.
Wang et al. (2005) berhasil
mengeksplorasi bagaimana potensi manfaat dari pengadopsian
teknologi RFID di sebuah rumah sakit di Taiwan.
Hasilnya menunjukkan bahwa teknologi RFID
memiliki potensi berkontribusi pada pengoperasian
yang lebih efektif, meningkatkan layanan
medis, dan keselamatan pasien (patient safety).
Tzeng et al. (2008) berhasil menunjukkan adanya
perbaikan proses bisnis di lima buah rumah sakit di
Taiwan setelah mengimplementasikan
teknologi RFID. Di sisi lain, adanya teknologi RFID
memudahkan staf medis melakukan pengidentifikasian pasien dan penelurusan
keberadaan peralatan medis yang diperlukan. Hal ini akan berdampak pada
peningkatan produktivitas dari staf medis terutama perawat. Umumnya, rumah
sakit akan semakin efisien operasinya bila mengaplikasikan teknologi RFID dan
juga akan meningkatkan kepuasaan pasien. Pasien tidak lagi menunggu terlalu
lama melakukan proses administrasi dan menunggu operasi karena peralatan medis
belum siap/ditemukan. Adanya teknologi RFID akan menggantikan aktivitas manual
menjadi otomatis sehingga biaya tenaga kerja dan waktu kerjanya dapat
tereduksi.
Adanya mandat dari pemerintah
berkaitan dengan perlunya obat-obatan tertentu dibubuhi dengan RFID tags menyebabkan
jumlah pencurian dan pemalsuan obat dapat ditekan. Dampaknya juga dapat menekan
biaya persediaan obat karena rumah sakit dengan mudah bisa mengetahui berapa
obat yang tersedia. Adanya teknologi ini, moral dari staf medis akan meningkat
karena kemungkinan terjadinya kesalahan obat dan sukarnya memantau pasien dan
peralatan
medis dapat dihindari. Pada Tabel 1 diperlihatkan hasil identifikasi manfaat
teknologi RFID di industri kesehatan terutama rumah sakit dari beberapa
literatur terutama pada artikel yang ditulis oleh Wang et al. (2005),
Tzeng et al. (2008) dan FDA (2006).

Penelitian ini lebih difokuskan
pada entitas rumah sakit karena bila melihat dari aliran pasoknya,
memperlihatkan bahwa rumah sakit adalah entitas utama dari industri kesehatan
dan berinteraksi langsung dengan
konsumen/pasien. Umumnya, aplikasi teknologi informasi baru dilakukan oleh
rumah sakit besar karena memerlukan investasi biaya yang besar. Hampir 60% rumah
sakit berkatagori besar milik pemerintah dengan bertipe A dan B berada di Pulau
Jawa dan sebagian besar rumah sakit swasta berkatagori besar juga berada di
Pulau Jawa (Depkes, 2008). Di sisi lain, fakta menunjukkan bahwa aplikasi
teknologi RFID relatif baru di Indonesia. Oleh karena itu, penelitian ini lebih
difokuskan pada rumah sakit berkatagori besar dan bertipe A dan B di Pulau Jawa
dengan menggunakan metode interview dan penyebaran kuesioner
semi-struktur agar mendapatkan opini yang lebih mendalam dari masalah yang
hendak diteliti. Sebagian besar skala penelitian yang digunakan adalah skala
ranking karena relatif sedikit para eksekutif dan manager rumah sakit
mengetahui dan memahami teknologi ini di rumah sakit.
Adanya aplikasi teknologi RFID
akan menyebabkan peningkatan proses bisnis berupa terjadinya proses otomatisasi
yang berimplikasi tereduksinya proses yang bersifat manual. Dalam
konteks rumah
sakit, proses pemberian identitas pasien dan pemenuhan pelaporan SOP (standard
operation procedures) tidak perlu dilakukan secara manual lagi. Pemberian
identitas pasien dapat dilakukan secara otomatis tanpa perlu
menginputkan data kembali karena data pasien sudah tersimpan pada sistem
ketika pasien registrasi pertama kali. Pemenuhan pelaporan SOP sebagai kewajiban
perawat jaga, tidak perlu dilakukan secara manual karena pelaksanaannya bisa dilakukan
secara otomatis dengan bukti yang cukup kuat berupa waktu kapan aktivitas
pemberian obat dan suntikan dilakukan oleh perawat. Perawat perlu
menginputkan data aktivitasnya pada RFID tags yang telah dipakai
oleh pasien. Pelaporan tindakan medis yang telah dilakukan perawat sesuai
dengan perintah dari dokter, tidak perlu dilaporkan secara langsung karena
dokter dengan bantuan telepon genggam berjenis PDA (personal digital
assitant) yang memiliki fasilitas infrared dan bluetooth mampu
membaca dokumen di RFID tags.
Dalam penelitian yang dilakukan ,
hambatan dari pengadopsian teknologi RFID dibagi menjadi dua yaitu hambatan
bisnis dan teknologi. Dalam konteks hambatan pada bisnis, sebagian besar
responden menganggap bahwa faktor utama dari terhambatnya pengadopsian
teknologi RFID karena ketiadaan informasi yang lengkap dan valid yang
membahas bagaimana aplikasi teknologi RFID di rumah sakit melalui jurnal
akademis (terutama nasional), majalah, surat kabar dan media lainnya. Kalaupun
mereka
rumah sakit, mereka mendapatkan informasi yang tidak
lengkap dan valid sehingga sering beranggapan bahwa tidak mudah
mengaplikasikannya dan biaya dari teknologi ini sangatlah mahal. Di sisi
internal rumah sakit, tidak tersedianya anggaran yang cukup untuk mengimplementasikan
teknologi RFID dan tiadanya sumber daya internal yang mendukung menjadi faktor
penghambat penting kedua dan ketiga.
Implementasi teknologi RFID di
rumah sakit Indonesia berada pada tahap inisiasi, dimana para eksekutif dan
manajer rumah sakit berupaya secara aktif maupun pasif mencari informasi dari
solusi yang bisa diberikan untuk menyelesaikan masalah rumah sakit atau
meningkatkan daya saingnya. Bila dibandingkan dengan negara lain seperti di
Taiwan, menunjukkan terjadi perbedaan yang signifikan dari tahapan proses
implementasi teknologi RFID. Berdasarkan hasil penelitian Tzeng et al. (2008)
menunjukkan bahwa implementasi teknologi RFID di rumah sakit di Taiwan telah
memasuki tahap pengembangan (infusion). Tzeng et al. (2008)
melaporkan bahwa tidak hanya mampu mereduksi biaya dan meningkatkan pelayanan
medis. Selain itu, teknologi RFID juga mampu meningkatkan proses bisnis di lima
rumah sakit di Taiwan.






