Minggu, 16 November 2014

Arsitek dan Estetika bangunan

Mengapa Arsitek perlu membicarakan estetika?
Tentu saja perlu dan cukup penting agar estetika bangunan lebih mudah dipahami dengan
suatu alat, karena biasanya estetika ukurannya berbeda bagi setiap orang. Sama seperti
sebuah bahasa, bila tidak ada bahasa, maka pengetahuan tidak tertularkan. Dalam arsitektur,
estetika adalah sebuah bahasa visual, yang tidak sama dengan beberapa bahasa estetika yang
tidak visual, seperti bahasa itu sendiri. Estetika dalam arsitektur memiliki banyak sangkut paut
dengan segala yang visual seperti permukaan, volume, massa, elemen garis, dan sebagainya,
termasuk berbagai order harmoni, seperti komposisi.  
Estetika yang berbeda dicari untuk mendapatkan pengalaman estetis lain, misalnya turis luar
negeri datang ke Bali. Estetika meskipun berkaitan dengan 'rasa' saat melihat bangunan juga
dapat dibangun melalui aplikasi teori arsitektur. Inilah mengapa estetika patut dibahasakan dan
dibahas dalam alat yang bernama komunikasi. Estetika dapat dimengerti dan dikembangkan
melalui pemahaman berbagai hal menyangkut teori estetika, menjadi dasar bagi banyak
cabang seni. Namun melihat berbagai dimensi yang mempengaruhi bagaimana seorang
manusia mengapresiasi keindahan, estetika hanyalah sebuah media untuk mencoba
menjelaskan apa yang disebut indah, namun tidak pernah bisa menjelaskan apa yang
sebenarnya terjadi dalam benak seseorang berkaitan dengan sensasi keindahan. Dalam teori
tentang estetika, dicoba dijelaskan berbagai sisi yang 'tersentuh' oleh keindahan sebuah obyek.
Jadi, apa yang indah bagi saya belum tentu indah bagi Anda.  
Mengapa preferensi berbeda? Apakah melulu hanya sebuah perbedaan genetika atau faktor
psikologis? Sebuah bangunan bisa jadi menarik bagi seseorang, namun tidak untuk yang lain.
Determinasi estetika dalam pikiran tidak melulu ditumbuhkan melalui faktor-faktor eksternal
yang hadir dari luar seorang subyek, namun juga hadir dari perangkat pengenalan dalam
dirinya. Karenanya arsitektur tidak selalu cukup hanya dipelajari melalui ilmu estetika yang
dangkal dan obyektif semata, perlu pendekatan subyektif untuk mengetahui sebuah preferensi.
Karenanya, arsitek yang berhasil dengan sebuah obyek arsitektural biasanya berhasil dengan
mengetahui lebih jauh tentang sisi subyektif klien, misalnya dengan proses berbincang-bincang
dengan seorang klien. Ini menjadikan arsitektur yang didasarkan pada intuisi saat mendesain,
selain bisa juga merupakan wadah kreativitas dari implementasi teori estetika.  
Keindahan memang subyektif, dalam diri setiap orang, pendapat tentang nilai estetika sebuah
bangunan seperti misalnya rumah tinggal, dipengaruhi oleh berbagai hal, antara lain;
subyektifitas diri sendiri. Sensasi hanya dimungkinkan bila fungsi biologis tubuh kita yang
berkaitan dengan fungsi sensasi dan persepsi dalam keadaan normal; misalnya mata bisa
melihat, hidung bisa mencium, pikiran dalam keadaan normal/perseptif. Mampukah suatu obyek
menggairahkan 'limbic' dalam otak kita sehingga merasa adanya kenikmatan saat berkontak
dengan sebuah obyek arsitektural. Kenikmatan yang didapatkan itu menjadikan otak kita
mengatakan sesuatu itu 'indah'. 
pengaruh dari lingkungan/masyarakat tentang apa yang disebut indah. Antara lain:
pendidikan : apa yang ditanamkan dunia edukasi tentang keindahan, mungkin merupakan
suatu pandangan yang ditekankan terus-menerus dan boleh jadi mengakar pada diri kita, serta
metode untuk mengapresiasi suatu obyek juga merupakan suatu metode yang ditekankan
secara terus-menerus.
opini yang berkembang di masyarakat. Kebanyakan melalui media, estetika diperkenalkan
sebagai konsensus dalam skala tertentu, apakah regional, kolonial, dan disebarluaskan dengan
berbagai cara. Terkadang estetika yang diperkenalkan dimaksudkan untuk mendukung sebuah
industri terkait tren arsitektur, seperti industri perumahan. Estetika yang merupakan ideal suatu
teritorial berbasis tradisi juga dapat memberi pengaruh teramat besar. 
pilihan yang diberikan oleh situasi, hanya pilihan yang memungkinkan akan dipilih digunakan
dalam rancangan si arsitek.
sumber : http://www.jasa-arsitek.com/articles/61-arsitek-dan-estetika-bangunan.html


Tidak ada komentar:

Posting Komentar