Senin, 21 Oktober 2013

Asam Urat



ASAM URAT
Asam urat atau Uric Acid adalah senyawa heterosiklik dari Carbon, Nitrogen, Oksigen, dan Hidrogen, yang ditunjukkan dengan rumus senyawa C5H4N4O3 (7,9-Dihydro-1H-purine-2,6,8(3H)-trione). Senyawa ini dapat membentuk ion dan garam yang disebut sebagai urat atau asam urat, seperti asam urat ammonium. Asam urat ini merupakan hasil dari turunan nukleotida purin. Pada manusia, purin diekskresikan dalam bentuk asam urat. Purin dalam jumlah banyak dapat ditemukan pada produk hewani, seperti liver dan sardines. Purin dalam jumlah sedang terkandung pada daging sapi, babi, ikan dan seafood, asparagus, kembang kol, bayam, oat meal, dan lain-lain.
Kadar asam urat dalam tubuh haruslah normal, tidak terlalu tinggi ataupun tidak terlalu rendah karena ia berperan sebagai antioksidan. Apabila terdapat asam urat dengan konsentrasi tinggi di dalam darah, maka dapat menimbulkan risiko gout atau encok. Senyawa ini berhubungan dengan kondisi kesehatan lain, seperti diabetes dan pembentukan batu ginjal.
Asam Urat dengan Konsentrasi Tinggi à Hypeuricemia
Berbagai hal dapat menjadi penyebab dari tingginya kandungan asam urat dalam tubuh yang dapat menyebabkan sejumlah penyakit, seperti encok, Lesch-Nyhan syndrome, diabetes, metabolic syndrome, dan pembentukan batu ginjal.
Adapun penyebab umum dari hyperuricemia adalah sebagai berikut :
-          Dapat penyebab keturunan
-          Makanan dapat berperan sebagai faktor tingginya asam urat. Konsumsi purin, sirup jagung dengan kandungan fruktosa tinggi, dan gula dapur dapat meningkatkan asam urat.
-          Asam urat dapat meningkat akibat adanya pengurangan ekskresi oleh ginjal
-          Berpuasa atau hilangnya berat badan dengan cepat juga dapat meningkatkan asam urat
-          Obat-obatan diuretik dapat meningkatkan asam urat pada darah
Penyakit yang dapat disebabkan oleh tingginya kadar asam urat dalam darah, yaitu :
  1. Gout / Encok
Gout dapat terjadi apabila serum asam uratnya minimal 6 mg/dL (~357 µmol/L). Namun pada kasus tertentu, seseorang dengan serum asam uratnya sebesar 9,6 mg/dL (~565 µmol/L) dan tidak menderita gout.
  1. Lesch-Nyhan Syndrome
Syndrome ini merupakan penyakit turunan yang sangat jarang ditemukan akibat tingginya asam urat dalam tubuh. Manifestasi klinisnya berupa gerak yang tidak disadari dan retardasi kognitif (keterbelakangan mental).
  1. Penyakit Kardiovaskular (Jantung Koroner)
Diduga kristal asam urat akan merusak endotel (lapisan bagian dalam pembuluh darah) koroner. Oleh karena itu, orang dengan kadar asam urat tinggi harus berupaya untuk menurunkan asam uratnya.
  1. Diabetes tipe 2 (Diabetes Melitus)
  2. Pembentukan batu ginjal
Sering terjadi pada penderita obesitas. Biasanya pada orang gemuk, pada masuk makanan dan sedikit pengeluarannya. Apabila asam urat tinggi dalam darah, tanpa kita sadari akan merusak organ-organ tubuh, terutama ginjal, karena saringannya akan tersumbat. Tersumbatnya saringan ginjal akan berdampak munculnya batu ginjal, atau akhirnya bisa mengakibatkan gagal ginjal.
Asam Urat dengan Konsentrasi Rendah dalam Tubuh à Hypouricemia
Tidak hanya asam urat dengan kandungan tinggi yang dapat menyebabkan gangguan pada tubuh, kekurangan kadar asam urat dalam tubuh pun dapat memberikan dampak yang cukup serius pada kesehatan seseorang. Hypouricemia ini dapat menyebabkan terjadinya penyakit multiple sklerosis. Adapun hal-hal yang dianggap sebagai penyebab kurangnya kadar asam urat dalam tubuh adalah sebagai berikut :
-          Kurangnya konsumsi Zinc. Wanita yang menggunakan obat kontrasepsi oral lebih berisiko terkena hypouricemia
-          Defisiensi Fe dan Mo dapat menyebabkan hypouricemia
Referensi
-          http://www.penyakitasamurat.net/?Penyebab_Penyakit_Asam_Urat
-          Cirillo P, Sato W, Reungjui S, et al. (December 2006). "Uric acid, the metabolic syndrome, and renal disease". J. Am. Soc. Nephrol. 17 (12 Suppl 3): S165–8. 
-          http://en.wikipedia.org/wiki/Uric_acid#Chemistry
-          Heinig M, Johnson RJ (December 2006). "Role of uric acid in hypertension, renal disease, and metabolic syndrome". Cleveland Clinic Journal of Medicine 73 (12): 1059–64
-          Maxwell, S. R. J.; Thomason, H.; Sandler, D.; Leguen, C.; Baxter, M. A.; Thorpe, G. H. G.; Jones, A. F.; Barnett, A. H. (1997). "Antioxidant status in patients with uncomplicated insulin-dependent and non-insulin-dependent diabetes mellitus". European Journal of Clinical Investigation 27 (6): 484–90.

1 komentar: